H ari masih sore. Tiga perempuan paruh baya tampak asyik bercengkerama di dermaga Pelabuhan Kayu Bangkoa. Mereka adalah warga Tionghoa yang bersiap berangkat ke Phinisi Karam. Mereka menunggu temannya yang lain.
Kawasan pecinan di Makassar telah ada sejak zaman pendudukan Belanda. Pada masa itu, pemerintahan kolonial sengaja mengatur kawasan sedemikian rupa dan dekat dengan pusat pemerintahan kolonial. Pada 1930-an, Belanda memberikan jabatan penting untuk mengatur administrasi warga Tionghoa. Kepada pejabatnya disematkan pangkat mayor dan kapitain.
Cuccuru bayao, onde-onde, atau kue basah, seperti kue bolu dan biji nangka, biasanya menjadi menu wajib dalam pernikahan peranakan Tionghoa di Makassar yang dikenal dengan sebutan Korontigi.